Perlindungan Tanaman

Petani di Indonesia sangat bergantung pada penggunaan bahan kimia. Pasar bahan pestisida kimia diperkirakan mencapai USD 576,9 juta di tahun 2018 dan nilainya diramalkan akan meningkat sebesar CAGR 5,4%. Meski petani telah banyak menerapkan perlindungan tanaman, namun masih banyak kasus kegagalan panen akibat serangan hama. Bahkan tercatat 29% petani padi masih mengalami kegagalan signifikan (BPS, 2017).

Ketergantungan dalam menggunakan bahan kimia justru menimbulkan ancaman resistensi hama dan serangan penyakit baru bahkan hilangnya produktivitas. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan pengetahuan dalam perlindungan dan pengendalian hama serta penyakit tanaman. Petani memiliki kecenderungan mengurangi dosis atau mencampur pestisida secara kurang tepat, hanya berdasar perkiraan atau rekomendasi dari petani lain, penjual maupun penyuluh.

PRISMA bekerja sama dengan berbagai perusahaan pestisida kimia bio-based dalam upaya meningkatkan pendapatan petani dengan cara mendorong petani untuk dapat menerapkan metode perlindungan tanaman alternatif melalui penggunaan pestisida berkualitas secara bijaksana.

Hingga Desember 2018, sektor perlindungan tanaman ini telah berhasil menunjukkan kontribusi positif terhadap peningkatan pendapatan petani. Di fase kedua, PRISMA akan meningkatkan upaya dan kolaborasi dengan berbagai mitra untuk intervensi perlindungan tanaman di berbagai provinsi.


Per Desember 2020

60,700

IDR 422bn