Babi

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah daerah pengkonsumsi babi terbesar di Indonesia. Selain dikonsumsi babi juga digunakan untuk upacara adat yang penting. Meskipun memiliki populasi babi terbesar di Indonesia, pasar dan produksi babi NTT masih belum tergarap secara maksimal. Produksi babi umumnya kurang maksimal akibat metode pemeliharaan yang masih tradisional seperti penggunaan bibit babi berkualitas rendah, pakan ternak tradisional serta penggunaan obat-obatan tambahan yang terbatas.

PRISMA dan mitra perusahaan bekerjasama untuk menyediakan akses yang lebih baik terhadap bibit berkualitas pakan, vaksin, dan obat-obatan tambahan yang berkualitas tinggi, mengembangkan layanan yang mendukung jaringan distribusi pedesaan dalam menjangkau peternak kecil, memberikan insentif tambahan, dan pelatihan teknik pemeliharaan ternak dan kandang yang baik dan benar.

Selain itu PRISMA juga bekerja sama dengan Dinas Peternakan NTT dan sejumlah perusahaan swasta untuk menyusun roadmap penanggulangan Hog Cholera (2018-2023). Serangan hog cholera tersebut mengakibatkan kematian 100.000 ekor babi dengan kerugian melebihi 25 miliar rupiah.

Hingga Desember 2018, sektor babi merupakan kontributor pencapaian tertinggi PRISMA. Sektor ini akan terus menjadi salah satu sektor unggulan di fase kedua.


Per Desember 2020

115,862

IDR 712bn