PRISMA dan HARA Bermitra untuk Memasarkan Hasil Pertanian Melalui Teknologi Digital

Perusahaan startup atau rintisan bersiap untuk kondisi terburuk saat bisnis mereka yang tengah berkembang menghadapi tantangan berat akibat COVID-19. Banyak yang kemudian mengadaptasi model bisnis mereka dengan mengoptimalkan penggunaan teknologi digital dan/atau perluasan kemitraan dengan pemain pasar lainnya.

HARA, yang berfokus pada pertukaran data berbasis-blockchain untuk sektor pangan dan pertanian, adalah salah satu perusahaan yang baru memulai untuk menyesuaikan strategi bisnis mereka. Upaya ini diambil sebagai langkah penting dalam memastikan keberlanjutan dan relevansi bisnis mereka di tengah masa pandemi.

Pembatasan sosial telah menyebabkan gangguan pasar karena konsumen diharuskan untuk tinggal di rumah. Dengan keterbatasan fisik konsumen untuk pergi ke pasar tradisional, banyak penjual yang mengalami penurunan penjualan, sebagai akibatnya hasil panen bisa sia-sia. Menyadari tantangan ini, HARA mendirikan unit bisnis baru yang akan berfokus pada dukungan fungsi off-takeing (penjamin pembelian hasil panen) di pasar. PRISMA dan HARA akan bersama-sama menggunakan unit ini untuk menghubungkan pedagang dengan warung-warung kecil tradisional atau e-commerce pertanian menggunakan teknologi blockchain mereka. Langkah ini tidak hanya membantu performa HARA selama masa pandemi, namun ini juga diharapkan dapat membantu mengalirkan hasil produksi petani untuk mencapai tangan konsumen.

Kemitraan PRISMA dengan HARA dimulai pada tahun 2017 dengan fokus pada pengumpulan data untuk penelitian pertanian. Sejak 2018, PRISMA telah menggeser fokus kemitraannya dengan HARA dengan mendukung pengembangan strategi pada: (1) memasukkan kios sebagai agen untuk produk pembiayaan petani melalui pekerjaan mereka dengan lembaga keuangan; (2) memperoleh data pertanian yang penting untuk penilaian kredit lembaga keuangan; dan (3) menjembatani kemitraan baru dengan bank-bank terkemuka di Indonesia. Melalui kemitraan ini, hingga Mei 2020 HARA telah mendukung sejumlah lembaga keuangan dalam menyetujui total 6.000 aplikasi kredit dari petani dengan nilai pinjaman lebih dari 15 Miliar Rupiah.