PRISMA Bekerja Sama dengan Mitra Sektor Publik dan Swasta untuk Mengatasi dan Meminimalkan Dampak ASF

African Swine Fever (Virus Babi Afrika, ASF) memiliki pengaruh yang signifikan pada industri babi dan pasar negara-negara yang terkena dampak, terutama dalam hal perubahan harga daging babi dan tingkat produksi babi. Di tengah tingginya penyebaran wabah ASF, harga daging babi eceran di pasaran global naik 47% pada Agustus 2019, sehingga berkontribusi pada kenaikan 10% dalam indeks harga pangan. Antara Januari dan Juni 2019, produksi babi Tiongkok turun 6% year-on-year dan mengakibatkan peningkatan impor daging babi Tiongkok — sebagian besar dari Uni Eropa dan Amerika Serikat sehingga menaikkan harga daging babi global.[1]

Indonesia bukanlah penghasil babi atau pengonsumsi daging babi utama. Namun demikian, karena keberagaman praktik keagamaan di beberapa provinsi di Indonesia, babi memainkan peran penting dalam kegiatan ekonomi dan sosial budaya petani kecil terutama di NTT, Sumatera Utara, Bali, Sulawesi Utara, Papua dan Papua Barat. Jika ASF menyebar secara luas ke provinsi-provinsi ini, hal itu tidak hanya akan berdampak signifikan pada mata pencaharian rumah tangga petani kecil, tetapi juga akan berdampak pada pelaku pasar lain di sektor ini seperti perusahaan pakan dan farmasi, restoran, pedagang, dll.

Pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan wabah ASF pada Desember 2019. Berdasarkan data dari OIE (Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan), kejadian pertama ASF di Indonesia dilaporkan di Sumatera Utara. Laporan dari FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Persatuan Bangsa-Bangsa) mengungkapkan bahwa hingga Februari 2020[2], 21 kabupaten dan kota telah terjangkit ASF di Sumatera Utara, yang merupakan provinsi paling terdampak, dengan 47.330 kematian babi. Di Bali, 1.735 babi mati karena penyebab yang tidak diketahui di 7 kabupaten dan kota. Sedangkan di NTT hingga Juli 2020, 24.822 ekor babi dilaporkan mati di 12 kabupaten dan kota di NTT akibat ASF[3].

Sejak kasus pertama pada akhir tahun 2019, Pemerintah Indonesia telah berupaya untuk menetapkan langkah-langkah untuk menanggapi wabah tersebut. PRISMA melalui upaya kolaboratif dengan pemangku kepentingan lainnya, seperti sektor swasta dan asosiasi, telah mendukung Pemerintah Indonesia untuk mencegah penyebaran virus dan melaksanakan langkah-langkah tanggap bencana di berbagai tingkatan. Kegiatan yang dilakukan termasuk pendidikan biosekuriti tingkat rumah tangga, penerapan sistem manajemen pemeliharaan ternak yang lebih baik, hingga lokakarya untuk meningkatkan kesadaran serta perencanaan pelaksanaan di tingkat provinsi dan nasional.

Sebagai bagian dari Kampanye Kesadaran ASF PRISMA untuk menanggulangi wabah ASF di NTT, pada tanggal 29 September 2020, PRISMA bekerja sama dengan Medion (perusahaan farmasi) dan Dinas Peternakan NTT melakukan edukasi online tentang “ASF dan Biosecurity” kepada Peternak babi, jalur distribusi pakan dan farmasi sebagian besar berasal dari wilayah NTT dengan sedikit dari Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Sulawesi. Lebih dari 60 peserta menghadiri acara tersebut dan berkesempatan mempelajari tentang penyebab, penyebaran, dan gejala serta cara pencegahan ASF khususnya melalui penerapan biosekuriti. Acara ini merupakan bagian dari Kampanye Kesadaran ASF yang dilakukan oleh PRISMA sebagai kegiatan respon cepat untuk menanggulangi wabah ASF di NTT.

 

 


[1] https://www.agriculture.gov.au/abares/research-topics/agricultural-commodities/sep-2019/african-swine-fever

[2] http://www.fao.org/ag/againfo/programmes/en/empres/ASF/situation_update.html

[3] https://kupang.kompas.com/read/2020/07/19/10174731/24822-ternak-babi-di-ntt-mati-akibat-virus-asf?page=all