Didukung Hasil Penelitian, Pemerintah NTT Mendorong Pengembangan Jagung Guna Mendukung Ketahanan Pangan

Lecky Frederich Koli, Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTT, mengapresiasi kolaborasi PRISMA antara PRISMA, Dinas Pertanian Provinsi NTT, dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT - badan pemerintah yang diberikan mandat untuk mengelola penelitian pertanian. Sejak 2014 PRISMA bekerja sama dengan mitra publik dan swasta untuk memperkuat sektor jagung di NTT.

Salah satu hasil dari kerja sama tersebut adalah dokumen strategis “Langkah Taktis Pengembangan Jagung di Nusa Tenggara Timur”. Dokumen ini menerjemahkan penelitian ilmiah BPTP di sektor jagung menjadi strategi yang dapat ditindaklanjuti dan memberikan solusi berkelanjutan untuk pemerintah provinsi dan menjadi pedoman ringkas untuk program pengembangan jagung di NTT. Dalam pengembangan dokumen ini, PRISMA mendukung penyusunan kerangka kerja dan strategi kolaborasi publik-swasta guna menyelaraskan upaya pencapaian target sektor jagung di NTT.

Senada dengan Pak Lecky, Dr. Tony Basuki, peneliti senior di BPTP, menyampaikan, "Saya melihat kolaborasi dengan PRISMA datang dengan momentum yang tepat, ketika Pemprov NTT berencana menggandakan produksi jagung dari 0,9 juta ton pada 2019 untuk mencapai 1,8 juta ton pada 2023." Lebih lanjut Dr. Toni menyampaikan optimismenya bahwa dokumen strategis tersebut dapat memperluas sinergi program pemerintah. Beliau berharap temuan dalam dokumen tersebut dapat meningkatkan ketahanan pangan dan mengurangi stunting serta memperkuat pengembangan usaha peternakan masyarakat di NTT.

Dengan luas lahan yang lebih besar dari padi, jagung merupakan tanaman yang paling banyak ditanam di NTT, dan melibatkan 522.612 (62,5%) rumah tangga pertanian kecil.[1] PRISMA berkomitmen untuk mendukung peningkatan produksi dan produktivitas jagung di NTT.  


[1] Survei Pertanian antar Sensus (SUTAS) 2018.