Di Tengah Berbagai Hambatan, Pandemi Mendorong Penggunaan Internet oleh Petani

COVID-19 telah mengganggu alur rantai pasokan dan permintaan di pasar pertanian Indonesia. Di tengah kebijakan jaga jarak dan pembatasan mobilitas, para pelaku bisnis dan konsumen didorong untuk “go digital” guna memitigasi kelesuan ekonomi akibat pandemi.

Sayangnya, bagi banyak petani hal ini masih sulit dilakukan. Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada bulan Oktober 2020, PRISMA menemukan bahwa hanya sekitar 67 persen petani yang terhubung ke internet, di mana 50 persen di antaranya adalah pengguna aktif dan 17 persen hanya sesekali menggunakan internet. Diantara faktor yang menghambat akses petani terhadap akses internet adalah kepemilikan smartphone, tidak tahu cara mengakses internet, biaya data yang dan jangkauan jaringan yang rendah di daerah perdesaan.

Namun, survei terbaru ini menunjukkan bahwa COVID-19 telah mendorong 21 persen petani untuk meningkatkan penggunaan internetnya. Pencarian informasi mengenai praktik pertanian yang baik menjadi alasan utama peningkatan tersebut. Di saat pembatasan sosial terus berlaku, sejumlah petani juga mulai mengalihkan diskusi kelompok tani dari pertemuan tatap muka menjadi komunikasi melalui ke WhatsApp.

Dukungan untuk meningkatkan akses petani terhadap mengakses internet membutuhkan upaya terpadu dan terkoordinasi. Infrastruktur, keterjangkauan perangkat dan data, serta pemahaman petani khususnya yang lebih tua mengenai cara penggunaan internet merupakan hambatan yang sering ditemui. PRISMA akan terus bekerja sama dengan petani dan para mitra untuk mempromosikan penggunaan internet guna meningkatkan akses terhadap informasi terkait pertanian.