Peran Petani Perempuan di Indonesia yang Perlu Diketahui oleh Para Pelaku Bisnis

Perusahaan maupun lembaga lain di sektor pertanian seringkali tidak melihat bahwa 40 persen dari aktivitas pertanian di Indonesia dijalankan oleh perempuan. Sektor swasta dan publik kerapkali tidak memperhatikan peran perempuan. Perusahaan umumnya kesulitan dalam melihat posisi petani perempuan sebagai pengambil keputusan, begitu pula dengan potensi dampak finansialnya terhadap keuntungan bisnis.

PRISMA melihat strategi bisnis pertanian nasional cenderung hanya berfokus pada laki-laki. Kondisi ini mencakup berbagai hal, dari penjualan peralatan dan bahan mentah, hingga ketersediaan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan petani.

Pasar memegang peranan penting dalam mengurangi kemiskinan dan meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia. Namun, ketahanan pangan tidak bisa dipenuhi apabila sebagian besar dari petani tidak diperhatikan.

Setelah bekerja lebih dari enam tahun di Indonesia dan meningkatkan pendapatan hampir 500.000 rumah tangga pertanian di angka jutaan rupiah per tahun, PRISMA percaya bahwa perempuan merupakan bagian yang terpisahkan dari jantung bisnis perusahaan. Terdapat tiga poin penting yang perlu dipahami dalam segmentasi pasar ini:

Perempuan adalah Pengambil Keputusan yang Belum Banyak Diketahui – Mengenali dan menjangkau “Pengambil Keputusan” merupakan langkah dasar yang perlu diketahui dalam menjalankan bisnis. Perempuan memiliki posisi penting dalam pengambilan keputusan rumah tangga pertanian Indonesia – yang seringkali berperan sebagai pengelola keuangan rumah tangga.

Sebuah survei mengenai Akses dan Inklusi Finansial (SOFIA) di rumah tangga perdesaan yang dilakukan oleh PRISMA menunjukkan bahwa 61% perempuan adalah pengambil keputusan dalam keuangan rumah tangga. Data ini didapat walaupun perempuan di Indonesia masih memiliki keterbatasan finansial, seperti kelangkaan kepemilikan lahan, asset, maupun akses ke akun perbankan.

Walaupun pengaruh petani perempuan memiliki tingkat yang berbeda berdasarkan wilayah, jenis kegiatan, dan dinamika rumah tangga, PRISMA menemukan bahwa menjangkau perempuan merupakan salah satu cara tercepat untuk meningkatkan pemakaian produk baru maupun yang sudah ada saat ini.

Perempuan Lebih Memilih Belajar dari Perempuan Lainnya – Sumber informasi itu penting. Pengalaman dan penelitian mengatakan bahwa di berbagai latar belakang budaya – termasuk di antara perempuan yang bekerja di sektor pertanian Indonesia – perempuan lebih memilih mendapatkan informasi melalui relasi dengan perempuan lainnya.

PRISMA mempelajari hal ini ketika bermitra dengan perusahaan swasta yang bekerja dengan petani jagung di Madura, Jawa Timur. Kami menemukan bahwa perempuan di rumah tangga pertanian memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan teknologi dan besaran pengeluaran uang. Namun, strategi pemasaran perusahaan-perusahaan ini sebelumnya tidak melibatkan perempuan sebagai tenaga penjualan untuk para petani perempuan. Ketika dicoba, langkah ini mendorong penggunaan benih jagung hibrida serta penerapan praktik pertanian yang baik, sehingga pendapatan rumah tangga dapat ditingkatkan.

Pelaku bisnis yang bermitra dengan PRISMA kini membangun strategi pemasaran, desain produk, dan pengemasan yang dapat menarik perhatian perempuan dan memperoleh hasil berupa peningkatan penjualan. Acara pemasaran saat ini lebih memperhatikan kebutuhan, tantangan, dan preferensi perempuan, seperti jasa pengasuhan anak yang juga tersedia.

Tidak Sesulit yang Dibayangkan – Para CEO, kepala pemasaran dan ahli lapangan dapat merasakan beratnya tantangan yang perlu dihadapi setelah mengetahui bahwa strategi mereka telah mengesampingkan sebuah segmen pasar yang besar. Pelaku bisnis perlu memutar otak untuk menyusun strategi kembali supaya bisnis mereka dapat menjangkau potensi pasar secara optimal.

Melalui kolaborasi yang dibangun secara kuat dengan para pemain pasar utama, PRISMA memandang persepsi terhadap investasi dan resiko dari menjangkau perempuan kerapkali dianggap berlebihan, begitu pula dengan peluang yang seringkali diabaikan. Padahal, perubahan dapat dilakukan dengan cara yang mudah, seperti menyesuaikan strategi penjualan dan distribusi yang sudah ada untuk menyasar perempuan.

Perubahan kecil pada model bisnis dapat mengantarkan hasil yang besar pada rantai nilai pertanian apabila dilakukan dengan tepat. Perubahan ini bisa dilakukan semudah mengundang perempuan dan laki-laki ke acara sosialisasi, atau menerapkan strategi rekrutmen yang lebih inklusif.

Melalui kerja yang PRISMA telah lakukan bersama mitra swasta dan publik selama enam tahun, berbagai bisnis dan pemerintah daerah telah didorong untuk memahami perilaku konsumen dan perbedaan segmen – remaja, perempuan, laki-laki, dan kelompok lainnya – memiliki profil, preferensi, dan kebiasaannya masing-masing. Kami menyadari bahwa aspek ini sangat penting bagi strategi perusahaan dan bantuan pertanian pemerintah daerah.

Sejauh ini, PRISMA telah memberikan manfaat kepada 469.879 rumah tangga pertanian dan senantiasa ikut mendorong pembangunan di Indonesia.

 

Maryam Piracha adalah penulis dari materi ini yang saat ini memegang posisi sebagai Head of Portfolio 5 dan tim GESI (Gender Equality and Social Inclusion) di program PRISMA.

Sudut pandang yang disampaikan dalam publikasi ini hanya milik penulis dan tidak mencerminkan posisi dari PRISMA, Pemerintah Australia maupun Pemerintah Indonesia.